Renungan

Hasil Keringat Jadi Aset

Bro & Sis, beberapa tahun lalu ‘goya caisar’ begit booming. Dari anak-anak sampai orang tua hafal gerakan goyangan tersebut. Caisar sendiri jadi ketiban rezeki. Namanya mencuat, ia dikenal dimana-mana. Namun ketika ia tidak lagi muncul di tv, bagaimana kehidupannya kini? Sebuah situs online mengabarkan bahwa ia bersama isteri menjual baju, mie ayam, somai, sampai tahu. Ia mengaku secara finansial mema ia tidak lagi mendapat uang sebesar dulu, namun demikina ia tetap bersyukur.

Bukan hanya artis, para atlet, atau siapa pun yang tadinya ada diatas, namun tidak pandai mengubah hasil keringat mereka menjadi aset maka bersiaplah mempunyai hari depan yang jauh dari keberhasilan. Dan hal demikan banyak terjadi bukan? Ya, kita dulunya bergelimang harta namun di hari tuanya malah hidup sengasara. Sebagai orang beriman kita tidak boleh sembrono atau kurang bijaksana dalam mengatur keuangan yang ada. Maka, mulailah ubah masa-masa keemasan kita menjadi aset, properti, bisnis atau investasi sehingga kita mempunyai hari depan yang cerah.

Bro & Sis, kelak kita semua mesti memberi pertanggung jawaban kepara Tuhan atas segala apa yang kita kerjakan / kita lakukan. Ini tentu bicara pada semua aspek kehidupan, bukan hanya talenta namun juga harta dan kekayaan yang diberikan Tuhan kepada kita. Oleh sebab itu, mari kelola berkat yang Dia percayakan secara maksimal sehingga kita dinilai sebagai hamba yangbaik dan setia.

Persoalan sama dengan Peluang

Bro & Sis, penggemar klub sepak bola Newcastle bernama Glandstone Adams mengendarai mobile ke Crystal Palace untuk menyaksikan tim favoritnya bermain. Namun sayang tim jagoannya dihajar habis lawan dengan skor 3-1. Yang menambah kekesalannya adalah saat kembali ke rumah, Glandstone harus berulang kali menghentikan mobil tuanya untuk membersihkan salju dan menyiram kaca depannya. Tapi perjalanan yang membuat frustasi itu malah ujungnya memberikan dia inspirasi untuk menciptakan wiper yang dipatenkannya pada 1911.

Ban news is good news. Ya, masalah kadang-kadang malah menjadi alasan seseorang menemukan penemuan baru atau membuat usaha. Adanya masalah berarti menumbuhkan solusi. Dan ketika seseorang berusaha menjawab solusi tersebut, muncullah peluah usaha. Masalah kekurangan rumah menumbuhkan bisnis developer peruman. Masalah keuangan menghasilkan perbankan. Ada tabrakan, bencana, menghasilkan asuransi kendaraan maupun asurani jiwa. Itu pula yang dialami oleh Glandstone Adams, masalah membersihkan kaca depan mobil menghasilkan penemuan wiper.

Mari renungkan ap yang menjadi masalah anda hari ini. Mungkin itu bicara tentang kurangnya pendapatan dari pekerjaan utama. Dalam hal ini, anda bisa mencoba membuat usaha sampingan. Jika tidak mengganggu konsentras anda, tidak membuat anda kewalahan kenap tidak?

Bro & Sis, ketika Nabi Daud dihadapkan dangan masalah, Goliat, ujungnya ia menjadi populer. Seandainya ia tidak keluar dan mnghadapi sang raksasa, apakah orang Israel akan mengenalnya? Belum tentu. Maka bersyukurlah atas persoalan, itu bisa menjadi peluang.

Sumber: Renungan Bulanan Profesional, 14 Juni 2017 (Imelda)

Inner Beauty

Bro & Sis, Tyler Perry adalah seorang aktor, sutradara dan produser. Banyak hal yang mesti ia lakukan. Ia menulis naskah, mengarang lagu, membintangi film, merancang set panggung dan masih ada segudang pekerjaan yang menantinya. Belum lama ini, ia membintangi sebuah film, DIary of Mad Black Woman. Filmnya laris, meraup untung sebesar Rp. 500 miliar atau hampir 10 kali lipat dari biaya pembuatannya. Mengapa ia bisa sangat produktif? Mengapa Perry dipercaya orang untuk membuat ini dan itu? Salah satu rahasianya adalah ia selalu menyelesaikan apa pu yang ia mulai.

Jika teman-teman anda diminta bercerita tentang anda, kira-kira apa yang akan mereka katakan? Apakah mereka akan menilai bahwa anda seorang pekerja keras, selalu datang tepat waktu. Anda probadi yang menyukai keunggulan atau mungkin sebaliknya kita dikenal sebagai individu yang malas, tidak cekatan, tidak pinya inisiatif? Kalau kita sepertinya dinilai sebagai pribadi yang kurang cakapm yang minus di mata orang-orang, tidak ada kata terlambat untuk membenahinya.

Ya, berkomitmenlah untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan bulatkan tekad untuk mau memunculkan inner beauty kita di tempat kerja. Biarkan orang tahu bahwa kita memang pekerja yang bisa diandalkan. Perlihatkan kepada mereka bahwa kita berbeda karena iman kita.

Bro & Sis, tentu saja kita berusaha memiliki kinerja dan sikap yang excellent bukan sekedar pencitraan semata atau hanya menari muka. Tidak. Akan tetapi kita mengerjaka dengan tulus. Ingatlah inner beauty tidak muncul secara tiba-tiba namun dilatih setiap hari. Maka, pastikan kita membangun kebiasaan, sikap dan kinerja yang positif setiap saat agar dunia tahu bahwa itu bukan hanya semangat atau antusias sesaat namun karakter kita yang sesunggunya.

Sumber: Renungan Bulanan Profesional, 13 Juni 2017 (Imelda)

Melibatkan

Bro & Sis, Azim Hashim Premji adalah salah seorang pengusahn India yang memiliki perusahaan bernama Wipro. Wipro awalnya hanya menjual minyak goreng dan sabun, namun kemudian berkembang hingga menjadi pemasok alat-alat berat karena perusahaan itu bekerja sama dengan General Electric, perusahaan asal Amerika Serikat. Ketika teknologi dan informasi masuk India, Wipro bahkan melebarkan sayap menjadi distributor komputer pertama di India. Apa kunci suksesnya? “Kami memberi tanggung jawab kepada karyawan walaupun kesiapan mereka hanya 60% saja. Menurut pengalaman kami, seseorang menjadi elastis saat diberi tanggung jawab. Mereka berkembang pesat bersama pekerjaan mereka.”

Ya, kala anak buah dipercayai, dilibatkan dalam proyek penting misalnya, maka bukan saja kepercayaan diri mereka yang meningkat, namun juga hubungan Anda dengan merekapun semakin dekat. Kedekatan ini tentu saja dapat menumbuhkan loyalitas, hal yang ujungnya menguntungkan perusahaan.

Sebelum mendelegasikan, sebelum melibatkan atau merangkul orang, perlu diingat bahwa tidak ada pribadi yang sempurna. Sehandal apa pun anda, semahir bagaimana pun mereka, kekeliruan ata hal yang tidak diharapkan dapat saja terjadi. Maka, siapkanlah mental anda. Sikap ini tidak akan membuat kita terlalu stres atau frustasi kala orang-orang belum mencapai hasil yang maksimal. Toh, di lain wakti itu bisa diperbaiki.

Bro & Sis, jika anda mengunggu sampai karyawan benar-benar siap, menunggu sampai orang-orang yang bekerja untuk kita perfect maka sepertinya sampai kapan pun keadaan demikian tidak akan datang. Dan kita pun akan kewalahan karena tidak dibantu. Jadi, beranilah melibatkan dantidak kuatir mempercayai orang lain sebab bekerja sama lebih baik daripada bekerja seorag diri.

Sumber: Renungan Bulanan Profesional, 12 Juni 2017 (Imelda)